Planning Fallacy
kenapa kita selalu optimis soal waktu padahal sering telat
Jumat sore biasanya penuh dengan ilusi kehebatan. Kita sering duduk santai dan membuat daftar rencana akhir pekan yang sangat ambisius. "Saya akan membersihkan seluruh rumah, menyelesaikan satu laporan panjang, olahraga dua kali, dan maraton baca buku." Realitanya? Minggu malam kita malah panik. Kita menatap langit-langit kamar karena baru setengah babak laporan yang beres. Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kita selalu gagal mengukur waktu kita sendiri? Mari kita tarik mundur ke sebuah kisah sejarah yang epik. Tahun 1957, pembangunan Sydney Opera House di Australia resmi dimulai. Rencana awalnya, gedung megah ini akan selesai pada tahun 1963 dengan anggaran 7 juta dolar. Coba tebak kapan proyek ini benar-benar selesai? Gedung itu baru rampung sepuluh tahun lebih lambat, dan menyedot biaya hingga 102 juta dolar! Ini bukan kebetulan atau murni kesalahan kontraktor. Apa yang terjadi pada proyek raksasa tersebut, adalah hal yang sama persis dengan yang terjadi pada jadwal akhir pekan kita. Ada semacam "bug" atau cacat bawaan di dalam otak kita semua.
Fenomena ini sangat aneh dan tidak masuk akal kalau dipikir-pikir. Teman-teman pasti setuju, kita sebenarnya punya tumpukan data dari masa lalu. Secara historis, kita tahu persis bahwa tugas menulis atau beres-beres rumah biasanya memakan waktu tiga hari. Logikanya, kita akan menyediakan waktu tiga hari untuk tugas serupa di masa depan. Tapi entah kenapa, saat menatap tugas baru yang ada di depan mata, otak kita tiba-tiba berbisik manis. "Tenang saja, kali ini beda. Yang ini pasti kelar dalam sehari." Kita secara konsisten dan sadar mengabaikan data kegagalan kita sendiri di masa lalu. Mengapa kita begitu buta terhadap sejarah kita sendiri? Apakah kita pada dasarnya terlalu arogan? Atau jangan-jangan, ada sebuah sistem rahasia di sirkuit saraf kita yang sengaja menyabotase logika kita? Sebuah sistem yang rela mengorbankan rasionalitas demi memberi kita ilusi yang menenangkan jiwa?
Untuk menjawab misteri ini, kita perlu berjalan masuk ke dalam ruang kerja dua ilmuwan raksasa. Pada akhir tahun 1970-an, psikolog kognitif Daniel Kahneman dan Amos Tversky mengamati pola irasionalitas manusia ini. Mereka menyadari bahwa manusia memiliki dua mode yang saling bertarung saat memprediksi masa depan. Mode pertama ini sangat egois. Ia hanya berfokus murni pada tugas di depan mata. Saat kita membuat rencana, kita sedang menulis naskah film di mana kita adalah pahlawannya. Dalam naskah itu, kita membayangkan best-case scenario atau skenario terbaik. Kita asumsikan tidak akan ada jalanan macet. Kita yakin tidak akan sakit perut tiba-tiba. Kita percaya Wi-Fi tidak akan mati. Semuanya berjalan mulus tanpa hambatan. Namun, ketiadaan hambatan inilah yang menjadi masalah. Ada satu elemen maha penting yang secara otomatis di-cut atau dihapus oleh otak kita dari naskah tersebut. Sebuah elemen yang sebenarnya paling menentukan apakah kita akan selamat dari tenggat waktu atau hancur lebur.
Elemen yang dihapus oleh otak kita itu adalah: realita dunia luar. Kahneman dan Tversky akhirnya menamai fenomena psikologis ini sebagai planning fallacy atau kesesatan perencanaan. Ini adalah kecenderungan kognitif bawaan kita untuk selalu meremehkan waktu, biaya, dan risiko masa depan, namun di saat bersamaan melebih-lebihkan kelancarannya. Secara sains, saat merencanakan sesuatu, otak kita terkurung dalam inside view (pandangan internal). Kita hanya melihat niat baik dan semangat kita saat ini. Otak kita malas, bahkan menolak, menggunakan outside view (pandangan eksternal). Padahal pandangan eksternal ini adalah statistik nyata—seberapa sering hal buruk yang tak terduga terjadi pada orang lain, atau pada kita sendiri di masa lalu. Tapi mari kita sejenak berempati pada otak kita. Secara evolusioner, bias optimisme ekstrem inilah yang menyelamatkan spesies kita. Bayangkan jika nenek moyang manusia purba kita terlalu realistis menghitung risiko dimakan hewan buas. Mereka pasti memilih meringkuk ketakutan di dalam gua dan mati kelaparan. Bias optimisme inilah yang mendorong manusia berani keluar gua, berburu, membangun piramida, hingga menciptakan peradaban modern. Otak kita memang didesain oleh alam evolusi untuk menjadi mesin yang optimis, bukan mesin yang akurat.
Jadi, teman-teman, mari kita tarik napas lega. Saat kita lagi-lagi salah menghitung waktu dan berujung menunda pekerjaan, jangan terlalu keras menghakimi diri sendiri. Kita tidak selalu pemalas atau bodoh; kita hanya sedang menjadi manusia seutuhnya, lengkap dengan segala warisan evolusinya. Namun, karena kita kini sudah tahu rahasia neurobiologis ini, kita punya tanggung jawab untuk mengakali otak kita sendiri. Mulai sekarang, mari kita lakukan eksperimen kecil. Setiap kali kita memprediksi waktu pengerjaan sesuatu, gunakanlah "outside view". Ingat-ingat kapan terakhir kali kita mengerjakan hal serupa, lalu kalikan estimasi waktu awal kita dengan angka 1,5. Kalau kita yakin tugas selesai dalam dua jam, sediakanlah tiga jam. Belajarlah melihat data masa lalu kita dengan jujur dan tanpa kacamata berwarna merah jambu. Memahami sains di balik kelemahan kita bukan berarti kita mencari-cari alasan pembenaran untuk terus terlambat. Justru sebaliknya. Ini adalah langkah pertama yang indah untuk menjadi lebih bijak, lebih toleran, dan lebih ahli dalam menghargai satu-satunya hal di dunia yang tidak bisa kita beli: waktu.